Kamis, 10 Mei 2012

SUPER JUNIOR (SUJU)

Super Junior (Bhs Korea: 슈퍼주니어) atau lebih dikenal dengan singkatan SUJU ini merupakan Boyband papan atas di Korea tepatnyadi kota Seoul, Korea Selatan  bahkan di Asia pun nama grup mereka sangat terkenal. Siapa yang tidak tahu Super Junior terutama dikalangan perempuan, di Indonesia sendiri penggemar Suju didominasi oleh kaum hawa, karena personel di SUJU sendiri terdiri dari 13 cowok ganteng dan penampilan mereka saat konser juga begitu elegan dan energik.

Pada tahun 2010, hanya ada 10 anggota yang aktif, 3 orang diantaranya yaitu Hangeng memiliki masalah hukum dengan SM Entertainment sehingga menyebabkan HanGeng keluar dari Super Junior (sekarang bersolo karir di kancah hiburan Mandarin-Pop), KangIn meninggalkan grup sementara waktu untuk melaksanakan wajib militer, dan Kibum yang juga absen dikarenakan fokus pada karir seni perannya. Dibawah ini lengkapnya Profil Personil Super Junior Untuk pengermar Super Junior sendiri disebit ELF (Ever Lasting-Friends). Album perdananya ialah SuperJunior05 (TWINS), dirilis pada tahun 2005.

Biodata Foto Personil Super Junior memulai debut nya pada awal 2005 dengan membuat album pertama SuperJunior05 (TWINS).

Suju di pecah menjadi beberapa groub band, salah satunya adalah Suju M. Untuk melihat sejarahnya Anda bisa lihat di sini

Berikut Foto Biodata  Super Junior ' Suju '

Biodata Leeteuk Super Junior (cara mengucapkannya Eeteuk)
Nama asli: Park Jungsu
Nama Mandarin: Li Te
Nama panggilan: Angel Without Wings, Gaeteuk (oleh Heechul), Special Leader, Peter Pan, Ori (alias Bebek)
Tanggal lahir: 1 Juli 1983
Tempat lahir: Seoul Yeonshinnae
Tinggi badan: 178 cm (kalo di Star King dia bilang tinggi badannya kalo ga pake hak sepatu tambahan alias shoelift adalah 175 cm (petir menyambar))
Berat badan: 59 kg
Golongan darah: A
Agama: Kristen

Posisi: Leader, sub-vocal
Saudara: kakak perempuan Park Inyoung (1982)Keahlian/Hobi: piano, komposisi (musik), dengerin musik, nyanyiPendidikan: pindah dari Paekche Institute of the Arts ke Inha Universitas
Cewek ideal: Cewek yang cantik molek dan bersifat terbuka, tinggi ideal 163 cm dengan pergelangan kaki dan tangan yang kurus.

Biodata Heechul Super Junior 
Nama asli: Kim Heechul
Nama Mandarin: Xi Che
Nama panggilan: Heenim, Cinderella, Flower, Kim Pink, Kim Moodswing, Kim Cherry (dari Youngstreet), Snake/Ular (dari Shio China), Heerobbong (bagian dari Bbong bersaudara sama-sama Donghae dan U-Know Yunho), Heebongie Hyung (nama panggilan Heechul dari Yesung)
Tanggal lahir: 10 Juli1983
Tempat lahir: Daerah Hoengseong, Kangwondo; tapi tinggal di Wonju, Kangwondo
Tinggi badan: 179 cm 
Berat badan: 60 kg
Golongan darah: AB
Agama: Atheis/Agnostik
Posisi: sub-leader, rapper, sub-vocal
Saudara: kakak perempuan Kim Heejin (1982)
Keahlian/Hobi: menulis puisi, menulis cerita dongeng, main game komputer
Pendidikan: Sangji University; lulus taun 2008.

Cewek ideal: Cewek dengan satu kelopak mata yang mempunyai leher yang indah dan juga terlihat cantik kalo pake rok mini dan/atau kalo rambutnya diikat.


Biodata Han Geng/Hankyung Super Junior
Nama asli: Han Geng
Nama panggilan: Beijing Fried Rice(Nasi Goreng Beijing) (gara-gara Han Geng salah nyebut ‘nasi goreng’ dalam bahasa Korea di “Full House”, jadi diketawain Heechul deh…), Dragon/Naga (dari Shio China)
Tanggal lahir: 9 Februari 1984
Tempat lahir: Mudanjiang, Provinsi Hei Long Jiang
Tinggi badan: 181 cm
Berat badan: 66 kg
Golongan darah: B (awalnya golongan darahnya dikirain O terus jadi A. Baru tau golongan darahnya B waktu diperiksa tahun 2006.)
Agama: Atheis

Posisi: lead dancer, sub-vocal
Saudara: anak tunggal
Keahlian/Hobi: tari tradisional China, ballet, game komputer
Pendidikan: Central University for Nationalities
Cewek ideal: Cewek imut yang menghormati orang tuanya dan mencintainya apa adanya.

Biodata Yesung Super Junior
Nama asli: Kim Jongwoon
Nama Mandarin: Yi Xing
Nama panggilan: Cloud, Dog/Anjing (dari Shio China), Rabid Dog/Anjing Rabies (nama panggilan Yesung dari Heechul)

Tanggal lahir: 24 Agustus 1984
Tempat lahir: Chunahn, Provinsi Choongchung Selatan
Tinggi badan: 178 cm
Berat badan: 64 kg
Golongan darah: AB
Agama: Katolik

Posisi: lead vocal
Saudara: adik laki-laki Kim Jongjin (1987)
Keahlian/Hobi: nyanyi, dengerin musik, latihan di gym (?)
Pendidikan: Chungwoon University, kemungkinan pindah ke Sunmoon University; lulus awal taun 2009.

Cewek ideal: kayak Moon Geungyoung
 
 
 
 

Biodata Kangin Super Junior
Nama asli: Kim Youngwoon
Nama Mandarin: Jiang Ren
Nama panggilan: Bear Kangin, Strength Kangin, Korea No.1 Handsome Guy, Kang Kings, Kkang, Neoguri (alias Racoon/Rakun, muncul dari “Full House”), Ox (dari Shio China), Youngchoon (nama panggilan Kangin dari Heechul)
Tanggal lahir: 17 Januari1985
Tempat lahir: Seoul Seodaemoongoo HongEunDong
Tinggi badan: 180 cm

Berat badan: 70 kg
Golongan darah: O
Agama: Kristen, tapi ada juga yang bilang Atheis

Posisi: sub-vocal
Saudara: anak tunggal
Keahlian/Hobi: akting, nyanyi, kick boxing, berenang
Pendidikan: Paekche Institute of the Arts or  Seni Teater

Cewek ideal: Cewek yang kaya dan cantik yang memiliki kaki yang indah dan rambut lurus panjang.
 
 
 

Biodata Shindong Super Junior
Nama Asli: Shin Donghee
Nama Mandarin: Shen Dong
Nama panggilan: Dongri Dong Dong (dari Ppo Ppo Ppo), Dolpan Ogyupsal (sejenis makanan)
Tanggal lahir: 28 September 1985
Tempat lahir: Moonkyung, Provinsi KyungGi Utara
Tinggi badan: 178 cm
Berat badan: 90 kg (25/03/09-93 kg)
Golongan darah: O
Agama: Kristen

Posisi: lead dancer, rapper
Saudara: anak tunggal
Keahlian/Hobi: bikin macam-macam ekspresi wajah, bikin lelucon, menari
Pendidikan: Paekche Institute of the Arts

Cewek ideal: Cewek yang imut dan pendek

Biodata Sungmin Super Junior
Nama asli: Lee Sungmin
Nama Mandarin: Cheng Min
Nama panggilan: Sweet Pumpkin, Minimi
Tanggal lahir: 1 Januari 1986
Tempat lahir: Ilsan, Provinsi KyungGi
Tinggi badan: 175 cm
Berat badan: 57 kg
Golongan darah: A
Agama: Kristen

Posisi: lead vocal
Saudara: adik laki-laki Lee Sungjin
Keahlian/Hobi: bela diri China, akting, nonton film, main musik
Pendidikan: pindah dari Seoul Arts University; sekarang mahasiswa di Myongji University

Cewek ideal: Cewek yang imut, pendek, dan baik hati

Biodata Eunhyuk Super Junior
Nama asli: Lee Hyukjae
Nama Mandarin: En He
Nama panggilan: Jewel Guy/Cowok Permata, Monkey/Monyet (dari Shio China)
Tanggal lahir: 4 April 1986
Tempat lahir: Goyangshi NeungGok
Tinggi badan: 176 cm (di Yashimmanman disebutin tinggi badannya +/- 2 cm jadi 174 cm)
Berat badan: 58 kg
Golongan darah: O
Agama: Kristen

Posisi: lead dancer, rapper, sub-vocal
Saudara: kakak perempuan Lee Sora (1984)
Keahlian/Hobi: tarian segala jenis, olahraga, dengerin musik
Pendidikan: Mahasiswa di Pai Chai University

Cewek ideal: Cewek berkulit putih, imut, dan pendek

Biodata Donghae Super Junior
Nama asli: Lee Donghae
Nama Mandarin: Dong Hai
Nama panggilan: Fishy (sebenarnya hanya “Fish” tapi cara nyebutnya dalam bahasa Korea jadi kayak Fishy), Donghae Bada (East Sea/Laut Timur), Pinocchio (dinamain Heechul), Dorobbong (bagian dari Bbong bersaudara dengan Heechul dan U-Know Yunho), Tiger/Macan (dari Shio China)
Tanggal lahir: 15 Oktober 1986
Tempat lahir: Mokpo, Provinsi Jeolla Selatan
Tinggi badan: 175 cm
Berat badan: 60 kg/132 lb (Donghae bilang di Itta Upta 4/4/09 beratnya 59kg)
Golongan darah: A
Agama: Kristen

Posisi: lead dancer, rapper, sub-vocal
Saudara: kakak laki-laki Lee Donghwa
Keahlian/Hobi: menari, olahraga, nyanyi, nonton film
Pendidikan: Mahasiswa di Myongji University (tapi kemaren pernah denger dia drop out… bener gak sih? Mudah-mudahan sih nggak…)

Cewek ideal: Cewek yang pedulian dan keibuan yang punya tulang selangka yang indah(?)
 
 
 
 

Biodata Siwon Super Junior
Nama asli: Choi Siwon
Nama Mandarin: Shi Yuan
Nama panggilan: Simba (dinamain Heechul), Horse/Kuda (dari Shio China, tapi dia diolok-olok sama anak-anak SuJu dengan Ma Siwon yang kurang lebih artinya sama (kayaknya…)), The Lord No.1 Fan/Fans Tuhan No.1
Tanggal lahir: 10 Februari 1987 (yang asli: 7 April 1986)
Tempat lahir: Seoul Gangnam
Tinggi badan: 183 cm
Berat badan: 65 kg
Golongan darah: B
Agama: Kristen

Posisi: sub-vocal
Saudara: adik perempuan Choi Jiwon
Keahlian/Hobi: nyanyi, nari, akting, Taekwondo, bahasa Mandarin, main alat musik drum
Pendidikan: Mahasiswa di Inha University (Edukasi fisik, tapi bukan teologi, aneh yah…?)

Cewek ideal: Cewek Kristen dengan rambut bergelombang
 
 
 
 

Biodata Ryeowook Super Junior
Nama asli: Kim Ryeowook
Nama Mandarin: Li Xu
Nama panggilan: Eternal Maknae (artinya “selama 10.000 taun tetep jadi yang termuda”)
Tanggal lahir: 21 Juni 1987
Tempat lahir: Inchon Bupyung Sanggokdong
Tinggi badan: 173 cm
Berat badan: 58 kg
Golongan darah: O
Agama: Kristen

Posisi: lead-vocal
Saudara: anak tunggal
Keahlian/Hobi: nyanyi, komposisi (musik)
Pendidikan: Mahasiswa di Inha University, Seni Teater

Cewek ideal: Cewek pendek yang bisa nyanyi
 
 
 
 
 
 
 

Biodata Kibum Super Junior
Nama asli: Kim Kibum
Nama Mandarin: Ji Fan
Nama panggilan: Snow White/Putri Salju, Yangban Kim (semuanya dinamain oleh Heechul)
Tanggal lahir: 21 Agustus 1987
Tempat lahir: Seoul
Tinggi badan: 179 cm (di Yashimmanman dinyatain tingginya yang sebenarnya 177 cm)
Berat badan: 58 kg
Golongan darah: A
Agama: Kristen

Posisi: rapper
Keahlian/Hobi: akting, berlatih bernyanyi, berlatih ekspresi wajah
Saudara: adik perempuan Kim Saehee
Pendidikan: tidak diketahui…? (Misterius amat sih nih anak…?)

Cewek ideal: Cewek dengan mata yang indah dan memberikan perasaan kepadanya waktu melihatnya







Biodata Kyuhyun Super Junior
Nama asli: Cho Kyuhyun
Nama Mandarin: Gui Xian
Nama panggilan: Kim Kyu (dinamain Heechul), Game Kyu, Jumong Kyu , Chic Kyu, Maknae, dll! (Males tulis semuanya, soalnya aku denger-denger Kyuhyun punya 967 nama panggilan…)
Tanggal lahir: February 3, 1988
Tempat lahir: Seoul Nohwon
Tinggi badan: 180 cm
Berat badan: 68 kg
Golongan darah: A
Agama: Kristen

Posisi: lead-vocal
Saudara: kakak perempuan Cho Ahra (1985)
Keahlian/Hobi: nyanyi, dengerin musik, nonton film, game komputer
Pendidikan: Mahasiswa di Kyunghee University, Post Musik Modern

Cewek ideal: Cewek yang cantik dan beragama Kristen, mempunyai kaki yang indah, mirip dengan Kim Taehee (kenapa pada suka Kim Taehee sih??
 
 
 
                                                                                        

Senin, 02 April 2012

Faktor-faktor pemerolehan bahasa pa anak

FAKTOR-FAKTOR PEMEROLEHAN BAHASA PADA ANAK 
A. PENDAHULUAN 
Pemerolehan bahasa merupakan periode seorang individu memperoleh bahasa atau kosakata baru. Periode tersebut terjadi sepanjang masa. Permulaan pemerolehan bahasa terjadi secara tiba-tiba dan tanpa disadari. Seorang anak akan mengalami proses pemerolehan bahasa kedua setelah memperoleh bahasa pertamanya, melalui pemerolehan bahasa kedua (Language Acquistion) atau ada yang menyebutnya dengan pembelajaran bahasa (Language Learning). Istilah pembelajaran bahasa digunakan atas keyakinan bahwa bahasa kedua dapat diperoleh dan dikuasai hanya dengan proses belajar, dengan cara sadar dan disengaja. Berbeda dengan pemerolehan bahasa ibu, bahasa pertama atau bahasa ibu didapatkannya dengan cara yang alamiah, secara tidak sadar di dalam lingkungan keluargaanak-anak tersebut. Minat terhadap bagaimana anak memperoleh bahasa sebenarnya sudah lama sekali ada. Bahasan mengenai pemerolehan bahasa ini berkaitan erat dengan topik-topik sebelumnya karena bagaimana manusia dapat mempersepsi dan kemudian memahami ujaran orang lain merupakan unsur pertama yang harus dikuasi manusia dalam berbahasa. Begitu pula manusia hanya dapat memproduksi ujaran apabila dia mengetahui aturan-aturan yang harus diikuti yang dia peroleh sejak kecil. 

B. PEMBAHASAN 
1. Pengertian Pemerolehan Bahasa 
Dalam kamus besar bahasa Indonesia pemerolehan diartikan sebagai proses, cara atau perbuatan memperoleh . Pemerolehan bahasa adalah proses yang berlangsung didalam otak anak-anak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya. Istilah pemerolehan dipakai untuk padanan istilah inggris acquisition, yakni proses penguasaan bahasa yang dilakukan oleh anak secara natural pada waktu dia belajar bahasa ibunya (native language). Istilah ini dibedakan dari pembelajaran yang merupakan padanan dari istilah inggris learning. Dalam pengertian ini proses itu dilakukan dalam tatanan yang formal, yakni belajar di kelas dan diajar oleh seorang guru. Dengan demikian maka proses dari anak yang belajar menguasai bahasa ibunya adalah pemerolehan, sedangkan proses dari orang (umumnya dewasa) yang belajar di kelas adalah pembelajaran. Pembelajaran bahasa berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seseorang kanak-kanak mempelajari bahasa kedua, setelah dia memperoleh bahasa pertamanya. Jadi, pemerolehan bahasa berkenaan dengan bahasa pertama, sedangkan pembelajaran bahasa berkenaan dengan bahasa kedua. Menurut Sigel dan Cocking (2000:5) pemerolehan bahasa merupakan proses yang digunakan oleh anak-anak untuk menyesuaikan serangkaian hipotesis dengan ucapan orang tua sampai dapat memilih kaidah tata bahasa yang paling baik dan sederhana dari bahasa yang bersangkutan. Pemerolehan bahasa umumnya berlangsung di lingkungan masyarakat bahasa target dengan sifat alami dan informal serta lebih merujuk pada tuntutan komunikasi. 
 2. Teori Atau Hipotesis Yang Berkaitan Dengan Masalah Pemerolehan Bahasa 
a. Hipotesis Nurani Setiap bahasawan tentu mampu memahami dan membuat kalimat-kalimat dalam bahasanya karena dia telah “menuranikan” atau “menyimpan dalam nuraninya” akan tata bahasa bahasanya itu menjadi kompetensi (kecakapan) bahasanya juga telah menguasai kemampuan-kemampuan performansi (pelaksanaan) bahasa itu. Jadi, dalam pemerolehan bahasa, jelas yang diperoleh oleh kanak-kanak adalah kompetensi dan performansi bahasa pertamanya itu. Kemudian karena tata bahasa itu terdiri dari komponen sintaksis, semantik, dan fonologi, dan setiap komponen itu berupa rumus-rumus (kaidah-kaidah), maka ketiga macam rumus inilah yang terlebih dahulu dikuasi kanak-kanak dalam pemerolehan bahasa. 
b. Hipotesis Tabularasa 
Tabularasa secara harfiah berati “kertas kosong” dalam arti belum ditulis apa-apa. Lalu, hipotesis tabularasa ini menyatakan bahwa otak bayi pada waktu dilahirkan sama seperti kertas kosong, yang nanti akan ditulis atau diisi dengan pengalaman-pengalaman. Hipotesisini pada mula-mula dikemukakan oleh John Locke seorang tokoh empirisme yang sangat terkenal kemudian dianut dan disebarluaskan oleh John Watson seorang tokoh terkemuka aliran behaviorisme dalam psikologi. Dalam hal ini menurut hipotesis tabularasa, semua pengetahuan dalam bahasa manusia yang tampak dalam prilaku berbahasa adalah merupakan hasil dari integrasi peristiwa-peristiwa linguistik yang dialami dan diamati oleh manusia itu. 
c. Hipotesis Kesemestaan Kognitif 
Dalam kognitifisme, hipotesis kesemestaan kognitif yang diperkenalkan oleh Pieget telah digunakan sebagai dasar untuk menjelaskan proses-proses pemerolehan bahasa kanak-kanak. Hipotesis ini menganggap bahasa merupakan satu bagian dari perkembangan kognitif (intelek) secara umum 
 3. Faktor-faktor Pemerolehan Bahasa Pada Anak 
Dalam kamus besar bahasa Indonesia “faktor” diartikan sebagai hal (keadaan, peristiwa) yang ikut menyebabkan (mempengaruhi) terjadinya sesuatu . Faktor dasar yang mempengaruhi pemerolehan bahasa (pertama) pada anak adalah karena pemerolehan bahasa dilakukan secara informal dengan motivasi yang sangat tinggi (anak memerlukan bahasa pertama ini untuk dapat berkomunikasi dengan orang-orang yang ada di sekelilingnya) . Seorang anak dalam memperoleh bahasa pertama bervariasi, ada yang lambat, sedang, bahkan ada yang cepat. Hal ini tentu sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti yang dikemukakan oleh Chomsky, Piaget, Lenneberg dan Slobin berikut ini : 
a. Faktor Alamiah 
Yang dimaksudkan di sini adalah setiap anak lahir dengan seperangkat prosedur dan aturan bahasa yang dinamakan oleh Chomsky Language Acquisition Divice (LAD). Potensi dasar itu akan berkembang secara maksimal setelah mendapat stimulus dari lingkungan. Proses pemerolehan melalui piranti ini sifatnya alamiah. Karena sifatnya alamiah, maka kendatipun anak tidak dirangsang untuk mendapatkan bahasa, anak tersebut akan mampu menerima apa yang terjadi di sekitarnya. Sedangkan Slobin mengatakan bahwa yang dibawa lahir ini bukanlah pengetahuan seperangkat kategori linguistik yang semesta, seperti dikatakan oleh Chomsky. Prosedur-prosedur dan aturan-aturan yang dibawa sejak lahir itulah yang memungkinkan seorang anak untuk mengolah data linguistik. 
b. Faktor Perkembangan Kognitif 
Perkembangan bahasa pada seseorang seiring dengan perkembangan kognitifnya. Keduanya memiliki hubungan yang komplementer. Pemerolehan bahasa dalam prosesnya dibantu oleh perkembangan kognitif, sebaliknya kemampuan kognitif akan berkembang dengan bantuan bahasa. Keduanya berkembang dalam lingkup interaksi sosial. Piaget berpendapat dalam Brainerd seperti dikutip Ginn (2006) mengartikan kognitif sebagai sesuatu yang berkaitan dengan pengenalan berdasarkan intelektual dan merupakan sarana pengungkapan pikiran, ide, dan gagasan. Hubungannnya dengan mempelajari bahasa, kognitif memiliki keterkaitan dengan pemerolehan bahasa seseorang. Piaget (1955) memandang anak dan akalnya sebagai agen yang aktif dan konstruktif yang secara perlahan-lahan maju dalam kegiatan usaha sendiri yang terus menerus. Anak-anak sewaktu bergerak menjadi dewasa memperoleh tingkat pemikiran yang secara kualitatif berbeda, yaitu menjadi meningkat lebih kuat. Menurut Slobin (1977), perkembangan umum kognitif dan mental anak adalah faktor penentu pemerolehan bahasa. Seorang anak belajar atau memperoleh bahasa pertama dengan mengenal dan mengetahui cukup banyak struktur dan fungsi bahasa, dan secara aktif ia berusaha untuk mengembangkan batas-batas pengetahuannya mengenai dunia sekelilingnya, serta mengembangkan keterampilan-keterampilan berbahasanya menurut strategi-strategi persepsi yang dimilikinya. Pemerolehan linguistik anak sudah diselesaikannya pada usia kira-kira 3-4 tahun, dan perkembangan bahasa selanjutnya dapat mencerminkan pertumbuhan kognitif umum anak itu. 
c. Faktor Latar Belakang Sosial 
Latar belakang sosial mencakup struktur keluarga, afiliasi kelompok sosial, dan lingkungan budaya memungkinkan terjadinya perbedaan serius dalam pemerolehan bahasa anak. Semakin tinggi tingkat interaksi sosial sebuah keluarga, semakin besar peluang anggota keluarga (anak) memperoleh bahasa. Sebaliknya semakin rendah tingkat interaksi sosial sebuah keluarga, semakin kecil pula peluang anggota keluarga (anak) memperoleh bahasa. Hal lain yang turut berpengaruh adalah status sosial. Anak yang berasal dari golongan status sosial ekonomi rendah rnenunjukkan perkembangan kosakatanya lebih sedikit sesuai dengan keadaan keluarganya. Misalnya, seorang anak yang berasal dari keluarga yang sederhana hanya mengenal lepat, ubi, radio, sawah, cangkul, kapak, atau pisau karena benda-benda tersebut merupakan benda-benda yang biasa ditemukannya dalam kehidupannya sehari-hari. Sedangkan anak yang berasal dari keluarga yang memiliki status ekonomi yang lebih tinggi akan memahami kosakata seperti mobil, televisi, komputer, internet, dvd player, laptop, game, facebook, ataupun KFC, karena benda-benda tersebut merupakan benda-benda yang biasa ditemukannya dalam kehidupannya sehari-hari. Perbedaan dalam pemerolehan bahasa menunjukkan bahwa kelompok menengah lebih dapat mengeksplorasi dan menggunakan bahasa yang eksplisit dibandingkan dengan anak-anak golongan bawah, terutama pada dialek mereka. Kemampuan anak berinteraksi dengan orang lain dengan cara yang dapat dipahami penting intinya untuk menjadi anggota kelompok. Anak yang mampu berkomunikasi dengan baik akan diterima lebih baik oleh kelompok sosial dan mempunyai kesempatan yang lebih baik untuk memerankan kepemimpinannya ketimbang anak yang kurang mampu berkomunikasi atau takut menggunakannya. 
d. Faktor Keturunan 
Faktor keturunan meliputi: 
1. Intelegensia 
Pemerolehan bahasa anak turut juga dipengaruhi oleh intelegensia yang dimiliki anak. Ini berkaitan dengan kapasitas yang dimiliki anak dalam mencerna sesuatu melalui pikirannya. Setiap anak memiliki struktur otak yang mencakup IQ yang berbeda antara satu dengan yang lain. Semakin tinggi IQ seseorang, semakin cepat memperoleh bahasa, sebaliknya semakin rendah IQ-nya, semakin lambat memperoh bahasa. 
 2. Kepribadian dan Gaya/Cara Pemerolehan Bahasa 
Kreativitas seseorang dalam merespon sesuatu sangat menentukan perolehan bahasa, daya bertutur dan bertingkah laku yang menjadi kepribadian seseorang turut mempengaruhi sedikit banyaknya variasi-variasi tutur bahasa. Seorang anak tidak dengan tiba-tiba memiliki tata bahasa pertama dalam otaknya, lengkap dengan semua aturan-aturannya. Bahasa pertama itu diperolehnya dengan beberapa tahap, dan setiap tahap berikutnya lebih mendekati tata bahasa daribahasa orang dewasa. 

C. PENUTUP 
Istilah pemerolehan dipakai untuk padanan istilah inggris acquisition, yakni proses penguasaan bahasa yang dilakukan oleh anak secara natural pada waktu dia belajar bahasa ibunya (native language). Menurut Sigel dan Cocking (2000:5) pemerolehan bahasa merupakan proses yang digunakan oleh anak-anak untuk menyesuaikan serangkaian hipotesis dengan ucapan orang tua sampai dapat memilih kaidah tata bahasa yang paling baik dan sederhana dari bahasa yang bersangkutan. Pemerolehan bahasa umumnya berlangsung di lingkungan masyarakat bahasa target dengan sifat alami dan informal serta lebih merujuk pada tuntutan komunikasi. Adapun beberapa Teori atau Hipotesis Yang Berkaitan Dengan Masalah Pemerolehan Bahasa, sebagai berikut : • Hipotesis Nurani • Hipotesis Tabularasa • Hipotesis Kemestaan Kognitif Terdapat beberapa faktor pemerolehan pada bahasa anak : • Faktor Alamiah. • Faktor Perkembangan Kognitif. • Faktor Latar Belakang Sosial. • Faktor Keturunan. • Kepribadian dan Gaya/Cara Pemerolehan Bahasa. 

DAFTAR PUSTAKA 
Chaer, Abdul.Psikolinguistik Kajian Teoritik.(Jakarta: Rineka Cipta, 2009). Soenjono, Dardjowidjojo. Psikolinguistik (Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia). (Jakarta : Unika Atma Jaya 2003). Tarigan, Heri Guntur. Psikolinguistik. (Bandung : Angkasa 1986). (http://psikonseling.blogspot.com/2011/01/faktor-perkembanganbahasa-anak.html) http://semestaberpikir.blogspot.com/2011/06/faktor-faktor-yang-mempengaruhi_17.html

Sabtu, 03 Desember 2011

Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif


BAB I
PENDAHULUAN

Kebutuhan pemahaman yang benar dalam menggunakan pendekatan, metode ataupun teknik untuk melakukan penelitian merupakan hal yang penting agar dapat dicapai hasil yang akurat dan sesuai dengan tujuan penelitian yang sudah ditentukan sebelumnya.
Metode kuantitatif dan kualitatif sering dipasangkan dengan nama metode yang tradisional dan metode baru; metode positivistic dan metode postpositivistic, metode scientific dan artistic, metode konfirmasi dan temuan. Jadi metode kuantitatif sering dinamakan metode tradisional, positivistic, scientivic dan metode discovery. Selanjutnya metoda hase kualitatif sering dinamakan sebagai metode baru, postposivistic, artistic dan interpretive research.
Pendekatan kualitatif menekankan pada makna dan pemahaman dari dalam (verstehen), penalaran, definisi suatu situasi tertentu (dalam konteks tertentu), lebih banyak meneliti hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan kualitatif, lebih lanjut, mementingkan pada proses dibandingkan dengan hasil akhir; oleh karena itu urut-urutan kegiatan dapat berubah-ubah tergantung pada kondisi dan banyaknya gejala-gejala yang ditemukan. Tujuan penelitian biasanya berkaitan dengan hal-hal yang bersifat praktis.
Pendekatan kuantitatif mementingkan adanya variabel-variabel sebagai obyek penelitian dan variabel-variabel tersebut harus didefenisikan dalam bentuk operasionalisasi variabel masing-masing dan pemahaman dari luar (outward). Reliabilitas dan validitas merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi dalam menggunakan pendekatan ini karena kedua elemen tersebut akan menentukan kualitas hasil penelitian dan kemampuan replikasi serta generalisasi penggunaan model penelitian sejenis. Selanjutnya, penelitian kuantitatif memerlukan adanya hipotesis dan pengujiannya yang kemudian akan menentukan tahapan-tahapan berikutnya, seperti penentuan teknik analisis dan formula statistik yang akan digunakan. Juga, pendekatan ini lebih memberikan makna dalam hubungannya dengan penafsiran angka statistik bukan makna secara kebahasaan dan kulturalnya.






BAB II
PEMBAHASAN

A. PENELITIAN KUALITATI DAN KUANTITATIF
1. Fungsi dan prinsip dasar
Fungsi
Fungsi pokok penelitian kualitatif adalah membangun teori, sebagai kontras terhadap fungsi pokok penelitian kuantitatif yang adalah verifikasi teori. Untuk menghasilkan sebuah teori dituntut berlakunya ketentuan bahwa teori tersebut haruslah dibangun dari kenyataan atau fenomena yang ada di dunia nyata. Hal ini demikian adanya, karena hakikat keberadaan sebuah teori tidak lain adalah bentuk perumusan atau hasil abstraksi dari suatu kenya­taan.
Dalam hal membangun teori, penelitian kualitatif naturalistik menga­jukan konsep "grounded theory" yang intinya berisi pesan bahwa suatu teori haruslah dibangun dengan bertolak dari kenyataan yang ada di bumi (di tempat manusia secara nyata berada). Selanjutnya, untuk dapat menghasilkan teori melalui tindak penelitian, penelitian kualitatif meng­andalkan jenis analisis yang disebut analisis komparatif yang dikenakan secara berlanjut berkesinam­bungan terhadap kategori‑kategori data yang terus berkembang (menjadi makin banyak dan makin tajam) selama proses penelitian dilaksana­kan.
Prinsip Dasar
Penelitian kuantitatif berorientasi pada logika positivisme yang dipelopori oleh August Comte. Pandangan positivisme meyakini bahwa hanya pembuktian secara logis-empiris saja yang diterima sebagai satu-satunya kebenaran ilmiah. Mereka berkeyakinan bahwa suatu fenomena tidak terjadi secara kebetulan namun oleh karena adanya sebab-akibat.
Sedangkan penelitian kualitatif memiliki keyakinan “anti-positivisme”. Mereka mengkritisi budaya ilmiah yang obyektif, mekanistis, linear dan universal serta pandangan ilmu pengetahuan yang berkesatuan (unified science) dan bebas nilai. Menurut Thomas Samuel Kuhn, ilmu pengetahuan selalu dimuati oleh asumsi-asumsi lain. Misalnya asumsi tentang realitas juga bersinggungan dengan realitas sosiologis dan epistemologis
2. Validitas (ketepatan) Internal dan eksternal
Pengujian validitas dilakukan untuk mengetahui apakah alat pengumpul data yang digunakan benar-benar mengukur indikator variabel yang diteliti. Instrumen dikategorikan valid apabila instrumen yang digunakan mampu mengukur apa yang diinginkan, dan dapat mengungkapkan data dari variabel yang diteliti secara tepat. Tinggi rendahnya tingkat validitas instrumen menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang variabel dimaksud. Dengan kata lain, bahwa instrumen yang valid harus mempunyai validitas internal atau rasional, bila kriteria yang ada dalam instrumen secara rasional (teoretis) telah mencerminkan apa yang akan diukur. Dengan demikian, kriterianya ada di dalam instrumen itu sendiri, sedangkan instrumen yang mempunyai validitas eksternal bila kriteria dalam instrumen sesuai dengan kriteria dari luar atau fakta-fakta empiris yang telah ada. Kalau validitas internal instrumen dikembangkan berdasarkan teori yang relevan, maka validitas eksternal instrumen dikembangkan dari fakta empiris.
Validitas internal instrumen yang berupa test harus memenuhi construct validity (validitas konstruksi) dan content validity (validitas isi). Sedangkan untuk instrumen yang non-test digunakan untuk mengukur sikap, cukup memenuhi validitas konstruksi Hadi menyamakan construct validity dengan logical validity dan validity by definition. Instrumen yang mempunyai validitas konstruksi jika instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur gejala sesuai dengan yang didefinisikan.
Untuk merumuskan definisi secara benar, maka diperlukan teori-teori dari substansi ilmu yang diteliti. Dalam kaitan ini. Hadi menyatakan bahwa “bila bangunan teorinya sudah benar, maka pengukuran dengan alat ukur (instrumen) yang berbasis pada teori itu sudah dipandang sebagai hasil yang valid”.
Uji validitas instrumen dilakukan dengan menggunakan teknik analisis butir (analisis item), yaitu mengkorelasikan skor tiap butir dengan skor total yang merupakan jumlah tiap skor butir. Korelasi antara skor item dengan skor total haruslah signifikan berdasarkan ukuran statistik tertentu. Bila sekiranya skor semua pertanyaan yang disusun berdasarkan dimensi konsep/indikator berkorelasi dengan skor total, maka kita dapat mengatakan bahwa alat ukur yang kita gunakan mempunyai validitas yang baik. Validitas yang seperti ini disebut dengan validitas konstrak (construct validity). Menurut Ancok apabila alat pengukur telah memiliki validitas konstrak berarti semua item (butir) pertanyaan yang ada di dalam alat ukur itu telah mengukur konsep yang hendak diukur.
Untuk memperoleh koefisien validitas digunakan rumus korelasi peoduct moment dari r-pearson Hasil perhitungan dikonsultasikan dengan tabel korelasi. Apabila hasil perhitungan lebih besar dari harga yang ada pada tabel, maka instrumen dikatakan mempunyai tingkat korelasi yang tinggi dan dinyatakan juga mempunyai validitas yang tinggi
3. Asumsi, hipotesis dan pengujian hipotesis
Asumsi.
Penelitian kuantitatif memiliki ciri khas berhubungan dengan data numerik dan bersifat obyektif. Fakta atau fenomena yang diamati memiliki realitas obyektif yang bisa diukur. Variabel-variabel penelitian dapat diidentifikasi dan interkorelasi variabel dapat diukur. Peneliti kuantitatif menggunakan sisi pandangannya untuk mempelajari subyek yang ia teliti (etik). Keunggulan penelitian kuantitatif terletak pada metodologi yang digunakan.
Penelitian kualitatif cenderung menggunakan data teks yang bersifat subyektif. Realitas yang dipelajari dikonstruksikan sesuai dengan nilai sosial partisipan (subyek penelitian), oleh karenanya pemaknaan realitas sesuai dengan pemahaman partisipan (emik). Penelitian kualitatif memiliki jalinan variabel yang kompleks dan sulit untuk diukur
Hipotesis dan Pengujiannya
Pendekatan. Penelitian kuantitatif dimulai dengan teori dan hipotesis. Peneliti menggunakan teknik manipulasi dan mengkontrol variabel melalui instrumen formal untuk melihat interaksi kausalitas. Peneliti mencoba mereduksi data menjadi susunan numerik selanjutnya ia melakukan analisis terhadap komponen penelitian (variabel). Penarikan kesimpulan secara deduksi dan menetapkan norma secara konsensus. Bahasa penelitian dikemas dalam bentuk laporan.
Penelitian kualitatif tidak memerlukan hipotesis, justru kadang-kadang diakhiri dengan hipotesis. Perumusan teori berdasarkan data yang telah tersaturasi (grounded theory). Peneliti menggunakan teknik penggambaran (portrayal) secara alamiah terhadap fenomena yang muncul sekaligus dirinya merupakan instrumen penelitian itu sendiri. Penarikan kesimpulan secara induksi dengan menemukan salah satu pola yang berlaku dari pluralitas dan kompleksitas norma. Bahasa penelitian dikemas secara deskriptif.
4. Fokus Masalah
Fokus Masalah untuk Penelitian Kualiitatif
Fokus masalah penelitian KUALITATIF bersifat holistik,meliputi aspek yang cukup luas (tidak dibatasi pada variabel tertentu), dan hanya meneliti situasi yang ada, jadi sifatnya holistik.
Fokus Masalah untuk Penelitian Kuantitatif
Fokus masalah penelitian KUANTITATIF sangat spesifik (partikularistik) berupa variabel-variabel tertentu saja dan berhubungan dengan sebab kejadian Jadi tidak bersifat holistik
5. Teknik pengumpulan data, populasi-sampel dan analisis data
Teknik Pengumpulan Data
Dalam peneliti menggunakan pendekatan kualitatif, menggunakan teknik observasi terlibat langsung atau riset partisipatori, seperti yang dilakukan oleh para peneliti bidang antropologi dan etnologi sehingga peneliti terlibat langsung atau berbaur dengan yang diteliti. Dalam praktiknya, peneliti akan melakukan review terhadap berbagai dokumen, foto-foto dan artefak yang ada. Interview yang digunakan ialah interview terbuka, terstruktur atau tidak terstruktur dan tertutup terstruktur atau tidak terstruktur.
Sedang pendekatan kuantitatif teknik yang dipakai akan berbentuk observasi terstruktur, survei dengan menggunakan kuesioner, eksperimen dan eksperimen semu. Dalam mencari data, biasanya peneliti menggunakan kuesioner tertulis atau dibacakan. Teknik mengacu pada tujuan penelitian dan jenis data yang diperlukan apakah itu data primer atau sekunder.
Populasi Dan Sampel
Sampel kecil merupakan ciri pendekatan kualitatif karena pada pendekatan kualitatif penekanan pemilihan sampel didasarkan pada kualitasnya bukan jumlahnya. Oleh karena itu, ketepatan dalam memilih sampel merupakan salah satu kunci keberhasilan utama untuk menghasilkan penelitian yang baik. Sampel juga dipandang sebagai sampel teoritis dan tidak representatif. Pada umumnya, sampel yang diteliti disebut informan. Penarikan sampel didasarkan pada teknik non-probabilitas.
Sedang pada pendekatan kuantitatif, jumlah sampel besar, karena aturan statistik mengatakan bahwa semakin sampel besar akan semakin merepresentasikan kondisi nyata. Karena pada umumnya pendekatan kuantitatif membutuhkan sampel yang besar, maka stratafikasi sampel diperlukan . Sampel biasanya diturunkan dengan menggunakan teknik probabilitas dan diseleksi secara random. Dalam melakukan penelitian, bila perlu diadakan kelompok pengontrol untuk pembanding sampel yang sedang diteliti. Ciri lain ialah penentuan jenis variabel yang akan diteliti, contoh, penentuan variabel yang mana yang ditentukan sebagai variabel bebas, variabel tergantung, variabel moderat, variabel antara, dan variabel kontrol. Hal ini dilakukan agar peneliti dapat melakukan pengontrolan terhadap variabel pengganggu.
Analisis Data
Analisa kualitatif merupakan analisa yang mendasarkan pada adanya hubungan semantis antar variable yang sedang diteliti. Tujuannya ialah agar peneliti mendapatkan makna hubungan variable-variabel sehingga dapat digunakan untuk menjawab masalah yang dirumuskan dalam penelitian. Hubungan antar semantis sangat penting karena dalam analisa kualitatif, peneliti tidak menggunakan angka-angka seperti pada analisa kuantitatif.
Prinsip pokok teknik analisa kualitatif ialah mengolah dan menganalisa data-data yang terkumpul menjadi data yang sistematik, teratur, terstruktur dan mempunyai makna. Prosedur analisa data kualitatif dibagi dalam lima langkah, yaitu: 1) mengorganisasi data: Cara ini dilakukan dengan membaca berulang kali data yang ada sehingga peneliti dapat menemukan data yang sesuai dengan penelitiannya dan membuang data yang tidak sesuai; 2) membuat kategori, menentukan tema, dan pola: langkah kedua ialah menentukan kategori yang merupakan proses yang cukup rumit karena peneliti harus mampu menglompokkan data yang ada kedalam suatu kategori dengan tema masing-masing sehingga pola keteraturan data menjadi terlihat secara jelas; 3) menguji hipotesa yang muncul dengan menggunakan data yang ada: setelah proses pembuatan kategori maka peneliti melakukan pengujian kemungkinan berkembangnya suatu hipotesa dan mengujinya dengan menggunakan data yang tersedia ; 4) mencari eksplanasi alternatif data: proses berikutnya ialah peneliti memberikan keterangan yang masuk akal data yang ada dan peneliti harus mampu menerangkan data tersebut didasarkan pada hubungan logika makna yang terkandung dalam data tersebut; dan 5) menulis laporan: penulisan laporan merupakan bagian analisa kualitatif yang tidak terpisahkan. Dalam laporan ini peneliti harus mampu menuliskan kata, frasa dan kalimat serta pengertian secara tepat yang dapat digunakan untuk mendeskripsikan data dan hasil analisanya.
Model lain untuk melakukan analisa data kualitatif ialah dengan menggunakan: 1) Analisa Domain, 2) Analisa Taksonomi, 3) Analisa Komponensial, 4) Analisa Tema Kultural dan 5) Analisa Komparasi Konstan
Analisis dalam penelitian kuantitatif bersifat deduktif, uji empiris teori yang dipakai dan dilakukan setelah selesai pengumpulan data secara tuntas dengan menggunakan sarana statistik, seperti korelasi, uji t, analisis varian dan covarian, analisis faktor, regresi linear dll.nya.
6. Langkah-langkah penelitian
Banyak kesamaan antara langkah penelitian kuantitatif dengan kualitatif, dimana pada penelitian kuantitatif disamping perumusan masalah diperlukan adanya hipotesis sementara di dalam penelitian kualitatif tidak diperlukan, justru setelah meneliti kadang timbul hipotesis, kemudian studi pustaka pada kuantitatif dikaitkan dengan operasionalisasi variabel, sementara pada kualitatif bedanya adalah operasionalisasi aspek.

B. KUALITATIF DAN KUANTITATIF DALAM BAHASA ARAB
1. KUALITATIF
a.    Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini direncanakan dilaksanakan di MTsN Cipondoh yang berada di Jalan KH. Hasyim Ashari, Tangerang, Banten. Penelitian ini direncanakan selesai dalam 3 bulan, dimana kegiatan penelitian meliputi pengumpulan dan pengolahan data, penyajian dan interpretasi data yang telah diolah serta pelaporan.

b.    Pendekatan dan Subjek Penelitian
Jenis penelitian yang penulis gunakan adalah penelitian lapangan (field research) yang dalam pengumpulan datanya dilakukan secara langsung dari lokasi penelitian.  Pendekatan yang penulis gunakan adalah pendekatan kualitatif.  Pendekatan kualitatif merupakan suatu pendekatan dalam melakukan penelitian yang berorientasi pada fenomena atau gejala yang bersifat alami (Ary, 1982:159). Penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.
Objek dari penelitian yang penulis lakukan adalah problematika pembelajaran bahasa Arab bagi murid kelas VII dan VIII di MTsN Cipondoh.  Adapun subjek penelitiannya adalah:
1. Kepala Sekolah, yakni Mahyudin, S.Ag. Dari kepala sekolah diperoleh informasi (data) secara akurat mengenai gambaran umum di MTsN Cipondoh, yang meliputi sejarah berdirinya, letak geografis, visi dan misi, serta gambaran mengenai pelaksanaan pembelajaran bahasa Arab di MTsN Cipondoh
2. Guru Bahasa Arab, yaitu Mujizah, S.Pdi.  Guru bahasa Arab merupakan pihak yang berkaitan langsung dalam pelaksanaan pembelajaran bahasa Arab. Dari guru bahasa Arab akan diperoleh data mengenai permasalahan, pelaksanaan pembelajaran serta solusi yang telah ditempuh guna mengatasi permasalahan pembelajaran bahasa Arab bagi pemula yang diterapkan di MTsN Cipondoh
3. Siswa. Siswa merupakan pihak yang mendukung observasi dalam pembelajaran bahasa Arab.  Siswa yang akan diteliti adalah seluruh siswa yang mengikuti kegiatan pembelajaran bahasa Arab, yaitu siswa kelas VII dan VIII MTsN Cipondoh yang semua berjumlah 70 orang siswa.  Jadi, data diambil dengan cara sensus. Adapun lebih jelasnya secara umum data siswa kelas VII dan VIII adalah sebagai berikut :
TABEL 1
DATA SISWA KELAS VII DAN KELAS VIII
MTSN CIPONDOH
No
Kelas
Jenis Kelamin
Jumlah
Laki-laki
Perempuan
1.
2.
VII
VIII
15
17
20
18
35
35
Jumlah
32
38
70

c.    Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data atau informasi yang dibutuhkan, maka penulis menggunakan metode sebagai berikut:
1. Kuesioner
Kuesioner/angket digunakan untuk mengumpulkan data dari pertanyaan yang bersifat tertutup. Pada penelitian ini, peneliti kuesioner/data menggunakan instrumen pengumpulan data (IPD) untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadi problematika dalam pembelajaran bahasa Arab di kelas VII dan VIII di MTsN Cipondoh.  Daftar pertanyaan kuesioner disajikan pada Lampiran 1
2.   Wawancara
Wawancara adalah teknik pengumpulan data melalui proses tanya jawab lisan yang berlangsung satu arah, artinya pertanyaan datang dari pihak yang mewawancarai dan jawaban diberikan oleh yang diwawancara (Fathoni, 2006:105). Metode ini penulis gunakan sebagai metode pengumpulan data dengan jalan tanya jawab, baik dengan kepala sekolah, dan guru bahasa Arab. Pandaun wawancara tersebut disajikan pada Lampiran 2.
3.   Dokumentasi
Menurut Arikunto (2006: 188), dokumentasi adalah metode mencari data mengenai hal-hal atau variabel berupa catatan, traskrip, prasasti, buku, surat kabar, majalah, dan sebagainya. Metode dokumentasi ini penulis gunakan untuk memperoleh data dari dokumen-dokumen atau arsip-arsip yang ada di lokasi penelitian, seperti halnya sejarah berdirinya, letak geografis, keadaan guru dan karyawan, keadaan siswa serta sarana dan prasarana yang ada di lokasi tersebut. Hal-hal yang akan didokumentasikan pada penelitian ini disajikan pada lampiran 3.
4.   Observasi
Observasi adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui suatu pengamatan, dengan disertai pencatatan terhadap keadaan atau perilaku objek sasaran (Fathoni, 2006: 104). Metode ini digunakan untuk memperoleh data yang berhubungan dengan proses belajar mengajar bahasa Arab, minat siswa dalam menanggapi pelajaran bahasa Arab, permasalahan siswa dalam mempelajari bahasa Arab, upaya guru dalam pengajaran bahasa Arab, dan untuk mengetahui keadaan dan letak goegrafis di MTsN Cipondoh. Rincian objek yang akan diobservasi disajikan pada lampiran 4.

d.    Pengabsahan Data
Untuk memperoleh data yang absah, penulis mengunakan 5 cara sebagaimana disarankan oleh Qodir (1999; 76-78), yaitu:
1.    Valid, yaitu menunjukkan derajat ketepatan antara data yang terjadi pada kancah Perpanjangan pengamatan, peneliti diharapkan melakukan pengecekkan ulang terhadap dari data yang diperoleh dari sumber data
2.    Kasus negatif, data yang diperoleh dari suatu sumber bertentangan dengan  data yang disampaikan (objek) dengan data yang dikumpulkan oleh peneliti
3.    oleh sumber lain.  Hal ini justru digunakan oleh peneliti untuk pengecekan keabsahan data itu sendiri
4.    Teman sejawat, data yang diperoleh sebaiknya dipresentasikan dihadapan peneliti lainnya
5.    Member cheb, yaitu hasil penelitian yang diperoleh lalu disampaikan kembali kepada sumber dimana data itu diperoleh.


e.   Metode Analisis Data
Metode analisis data yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis data kualitatif yang bersifat deskriptif, yaitu menggambarkan makna data atau fenomena yang dapat ditangkap oleh peneliti dengan mengajukan bukti-buktinya baik melalui observasi, interview/wawancara ataupun dokumentasi (Ary,1982: 161).
Agar data yang terkumpul sesuai dengan kerangka kerja atau fokus permasalahan penulis, maka dalam menganalisa data penulis menggunakan teknik triangulasi data. Teknik ini digunakan untuk menganalisis data hasil wawancara dengan subjek utama (guru bahasa Arab dan siswa kelas VII dan VIII di MTsN Cipondoh, dan subjek penunjang, yaitu kepala sekolah VII dan VIII  MTsN Cipondoh. Dalam mencari data penulis akan mengakumulasikan pendapat dari beberapa subjek. Selain itu, teknik ini juga digunakan untuk membandingkan data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan data yang diperoleh dari hasil observasi atau dengan melihat dokumen-dokumen yang ada. Jika terdapat kesamaan terhadap data yang diperoleh maka dapat diambil kesimpulan secara langsung. Namun jika terdapat perbedaan antara subjek yang satu dengan yang lain dalam suatu masalah tertentu maka data tersebut akan dianalisis secara objektif sehingga diperoleh data yang valid. 
Triangulasi data yang penulis pergunakan tersebut yakni meliputi:
  1. Reduksi Data
Reduksi data adalah proses memilih, menyederhanakan, memfokuskan, mengabstraksi dan mengubah data kasar ke dalam catatan lapangan (Ary, 1982: 167).  Dalam penelitian yang penulis lakukan, data yang direduksi adalah data yang terkait dengan problematika pembelajaran bahasa Arab bagi pemula dan upaya-upaya yang telah ditempuh oleh guru dan kepala sekolah serta siswa yang bersangkutan dalam mengatasi problematika tersebut
  1. Display Data
Display adata adalah suatu cara merangkai data dalam suatu organisasi yang memudahkan untuk pembuatan kesimpulan dan/tindakan yang diusulkan Ary, 1982: 167). Dengan demikian, display data yang dimaksudkan adalah sekumpulan informasi dalam bentuk teks naratif yang telah disusun, diatur, dan diringkas dalam bentuk kategori-kategori sehingga makna yang terkandung di dalamnya mudah dipahami.  Dalam penelitian, data yang disajikan adalah data yang terkait dengan strategi pembelajaran bahasa Arab bagi pemula yang diantaranya yaitu:
(1)      Proses pelaksanaan pembelajaran bahasa Arab
(2)      Problematika yang melingkupi pada pembelajaran tersebut
(3)      Solusi yang mungkin dapat ditawarkan untuk menyelesaikan problematika yang terjadi.
  1.  Kongklusi
Adalah menarik kesimpulan. Dari reduksi data dan penyajian data yang dilakukan oleh peneliti maka dapat ditarik kesimpulan bahwa data yang nantinya penulis peroleh dan penulis deskripsikan dalam skripsi ini adalah mengenai gambaran proses pembelajaran bahasa Arab di MTsN Cipondoh yang di dalamnya terdapat penerapan-penerapan strategi dalam pengajaran bahasa Arab, baik tentang strategi yang dominan, juga alasan atau dasar pertimbangan pemilihan strategi pembelajaran bahasa Arab oleh guru bahasa Arab di VII dan VIII di MTsN Cipondoh.
Setelah reduksi data, display data dan konklusi dilakukan, maka dibutuhkan deskripsi analisis data. Untuk melakukan deskripsi analisis data, maka peneliti menggunakan metode berpikir:
(1) Deduktif, yaitu metode berpikir yang berangkat dari kebenaran yang bersifat umum kemudian ditarik kesimpulan yang bersifat khusus
(2) Induktif, yaitu metode berpikir yang dimulai dari pengetahuan yang bersifat khusus. Dengan kata lain kesimpulan diambil dari fakta-fakta yang bersifat khusus kemudian digeneralisasikan (Hadi, 2001:42).

2. KUANTITATIF

A.    Metode Penelitian Kuantitatif
Metode penelitian kuantitatif dinamakan metode penelitian tradisional, karena metode ini sudah lama digunakan, sehingga sudah mentradisi sebagai metode penelitian. Metode ini juga dinamakan metode posivistic, karena berlandaskan pada filsafat positivisme ( Sugiyono, 2003; 13). Penelitian kuantitatif didasari oleh filsafat positivisme yang lebih menekankan fenomena-fenomena objektif dan dikaji secara kuantitatif (Nana Saodih, 2006; 53).
Dinamakan juga metode discovery karena dengan metode ini dapat ditentukan dan dikembangkan berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi baru. Dinamakan metode kuantitatif, karena data penelitian bersifat angka-angka dan analisisnya menggunakan statistik (Sugiono, 2009:13).
Dalam penelitian kuantitatif, peneliti banyak dituntut untuk menggunakan angka-angka, mulai dari pengumpulan data-data penelitian, penafsiran data, sampai pada menampilkan hasilnya. Demikian halnya dalam pemahaman akan lebih baik apabila disertai dengan tabel, grafik, bagan, gambar atau tampilan. Akan tetapi, selain data yang bersifat kuantitatif juga ada data yang bersifat kualitatif.
Menurut Nana Saodih (2005: 53) terdapat beberapa jenis metode penelitian yang dapat dimasukan ke dalam metode penelitian kuantitatif yang bersifat non eksperimental, deskriptif, survey, ekspos fakto, komparatif, korelasional dan penelitian tindakan.
B.     Karakteristik Penelitian Kuantitatif
Prof. Drs. H. Agustiar Syah Nur (2010) mengungkapkan, terdapat delapan karakteristik penelitian kuantitatif. Kedelapan karakteristik tersebut adalah sebabgai berikut:
1.      Desain penelitian kuantitatif bersifat tetap (permanent), misalnya besarnya sampel, dan bagaimana memperoleh sampel, pada umumnya tidak dapat diubah-ubah.
2.      Hasil penelitian kuantitatif dirumuskan hanya berdasarkan data yang ada.
3.      Pengidentifikasian variabel, dan perumusan hipotesis pada umumnya didasarkan pada teori-teori atau konsep-konsep yang telah ada.
4.      Dalam pendekatan kuantitatif diasumsikan bahwa peneliti tahu arti suatu perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang yang sedang diteliti.
5. Perumusan konsep; teori dan kesimpulan pada penelitian kuantitatif dilakukan dengan metode deduktif,
6. Proses penelitian kuantitatif seyogyanya bebas dari pengaruh nilai, bebas nilai (value free).
7.      Dalam menulis laporan hasil penelitian, penelitian kuantitatif lazimnya bermain dengan tabel-tabel data, analisis statistik dan grafik,
8.      Pekerjaan kuantitatif didasatkan pada ”realistik epistimology” yang beranggapan bahwa apa yang dikatakan sebagai suatu ”truth” itu persis sama dengan benda atau kenyataan yang sebenarnya, karena suatu kesimpulan yang dibuat harus benar-benar akurat dan menyimpulkan realitanya.
C.    Penggunaan Metode Kuantitatif
Bila masalah yang merupakan titik tolak penelitian sudah jelas. Masalah adalah merupakan penyimpangan antara yang seharusnya dengan yang terjadi, antara rencana dan pelaksanaan, antara teory dan praktik, antara aturan dan pelaksanaan. Dalam menyusun proposal penelitian, masalah ini harus di tunjukan dengan data, baik data hasil penelitian sendiri maupun dokumentasi. Misalnya akan meneliti untu menemukan pola pemberantasan kemiskinan, maka data orang miskin sebagai masalah harus di tunjukan.
Bila peneliti ingin mendapatkan informasi yang luas dari suatu populasi. Metode penelitian kuantitatif cocok digunakan untuk mendapatkan informasi yang luas tetapi tidak mendalam.
Bila ingin diketahui pengaruh perlakuan/ treatment tertentu terhadap yang lain. Untuk kepentingan ini metode experiment paling cocok digunakan. Misalnya pengaruh jamu tertentu terhadap derajat kesehatan.
Bila peneliti bermaksud menguji hipotesis penelitian dapat berbentuk hipotesis deskriptif, komperatif, dan asosiatif.
Bila peneliti ingin mendapatkan data yang akurat, berdasarkan penomena yang empiris dan dapat di ukur. Misalnya ingin mengetahui IQ anak-anak dari masyarakat tertentu maka dilakukan pengukuran dengan test IQ.
Bila ingin menguji terhadap adanya keragu-raguan tentang validitas pengetahuan, teori dan produk tertentu.




BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Kedua pendekatan tersebut masing-masing mempunyai keunggulan dan kelemahan. Pendekatan kualitatif banyak memakan waktu, reliabiltasnya dipertanyakan, prosedurnya tidak baku, desainnya tidak terstruktur dan tidak dapat dipakai untuk penelitian yang berskala besar dan pada akhirnya hasil penelitian dapat terkontaminasi dengan subyektifitas peneliti.
Pendekatan kuantitaif memunculkan kesulitan dalam mengontrol variable-variabel lain yang dapat berpengaruh terhadap proses penelitian baik secara langsung ataupun tidak langsung. Untuk menciptakan validitas yang tinggi juga diperlukan kecermatan dalam proses penentuan. 
Dalam penelitian untuk membuktikan atau menemukan sebuah kebenaran dapat menggunakan dua pendekatan, yaitu kantitatif maupun kualitatif, maka kebenaran yang di peroleh dari dua pendekatan tersebut jelas memiliki ukuran dan sifat yang berbeda. Kesimpulan pada hasil penelitian pendekatan kuantitatif lebih menitikberatkan pada frekwensi tinggi sedangkan pada pendekatan kualitatif lebih menekankan pada esensi dari fenomena yang diteliti. Kemudian kebenaran dari hasil analisis penelitian kuantitatif bersifat nomothetik (dalam arti mencari hukum keberlakuan yang sifatnya umum) dan dapat digeneralisasi sedangkan hasil analisis penelitian kualitatif lebih bersifat ideographik(dalam arti keberlakuannya bersifat khusus), tidak dapat digeneralisasi. Hasil analisis penelitian kualitatif naturalistik lebih bersifat membangun, mengembangkan maupun menemukan terori-teori sosial sedangkan hasil analisis kuantitatif cenderung membuktikan maupun memperkuat teori-teori yang sudah ada












DAFTAR PUSTAKA


Hamidi. 2004. Metode Penelitian Kualitatif: Aplikasi Praktis Pembuatan Proposal dan Laporan Penelitian. Malang: UMM Press. Hal 14-16
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.



Hadjar, Ibnu, “Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kuantitatif dalam Pendidikan”, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta 1996.
Emzir, “Metode Penelitian Pendidikan Kualitatif dan Kuantitatif”, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta 2008.