Selasa, 01 November 2011

PEDAGOGI


LANDASAN PAEDAGOGI

Makalah ini ditunjukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Bimbingan dan Konseling

logo UIN baru







Disusun Oleh:
Abdurrahman Fadilah
Elvi Syari Pane
Siti Nadhroh
Ulfah
Syarifah Jumilah
Dicky


JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2011
BAB I
PENDAHULUAN

Bimbingan dan konseling, bimbingan adalah proses pemberian bantuan (process of helping) kepada individu agar mampu memahami dan menerima diri dan lingkungannya, mengarahkan diri, dan menyesuaikan diri secara positif dan konstruktif terhadap tuntutan norma kehidupan ( agama dan budaya) sehingga mencapai kehidupan yang bermakna (berbahagia, baik secara personal maupun sosial)”.

Bimbingan dan konseling, “Proses interaksi antara konselor dengan klien/konselee baik secara langsung (tatap muka) atau tidak langsung (melalui media : internet, atau telepon) dalam rangka membantu klien agar dapat mengembangkan potensi dirinya atau memecahkan masalah yang dialaminya”.

Bimbingan dan konseling identik dengan pendidikan. Artinya, ketika seseorang melakukan praktik pelayanan bimbingan dan konseling berarti ia sedang mendidik, sebaliknya apabila seseorang melakukan praktik pendidikan ( mendidik ), berarti  ia sedang memberikan bimbingan[1].











BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian
Pedagogi adalah ilmu atau seni dalam menjadi seorang guru. Istilah ini merujuk pada strategi pembelajaran atau gaya pembelajaran.
Pedagogi juga kadang-kadang merujuk pada penggunaan yang tepat dari strategi mengajar. Sehubungan dengan strategi mengajar itu, filosofi mengajar diterapkan dan dipengaruhi oleh latar belakang pengetahuan dan pengalamannya, situasi pribadi, lingkungan, serta tujuan pembelajaran yang dirumuskan oleh peserta didik dan guru. Salah satu contohnya adalah aliran pemikiran Sokrates.
Kata "pedagogi" berasal dari Bahasa Yunani kuno παιδαγωγέω (paidagōgeō; dari παίς país:anak dan άγω ági: membimbing; secara literal berarti "membimbing anak”). Di Yunani kuno, kata παιδαγωγός biasanya diterapkan pada budak yang mengawasi pendidikan anak tuannya. Termasuk di dalamnya mengantarnya ke sekolah (διδασκαλείον) atau tempat latihan (γυμνάσιον), mengasuhnya, dan membawakan perbekalannya (seperti alat musiknya).
Kata yang berhubungan dengan pedagogi, yaitu pendidikan, sekarang digunakan untuk merujuk pada keseluruhan konteks pembelajaran, belajar, dan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan hal tersebut. Jadi landasan pedagogis ialah sistem pembelajaran yang diciptakan dan terbentuk dalam proses atau siklus hidup bermasyarakat.[2]
Dalam konsep ajaran islam pendidikan atau preoses belajar mengajar merupakan pondasi pokok dalam meyakini, memahami, dan mengamalkan perintah agama. Sejak permulaan islam di mekkah sudah mentradisikan sistem belajar melalui tempat-tempaat ibadah dalam bentuk informal dan non formal. Bahkan dalam haditsnya, Rasulullah SAW memerintahkan belajar dari sejak lahir hingga mati ( hadits ). Belajar untuk mencari dan mendalami pengetahuan menjadi salah satu syarat utama dalam mengamalkan syariat islam. Dalam salah satu ayat alquran dinyatakan, tidak dibenarkan (tidak sah) mengamalkan sesuatu amalan tanpa didasari pengetahuan yang cukup terhadap amalan yang dilakukan tersebut, atau bisa jadi ditolak dan tidak diterima amalanya.
            Dalam pengembangan teori dan pelayanan program bimbingan dan penyuluhan konseling yang didasari konsep ajaran islam, maka pendidikan dan pengajaran menjadi salah satu pilar yang tidak mungkin dipisahkan. Bagaimanapun juga dalam proses membantu, membimbing, dan mengarahkan umat islam agar dapat hidup dalam sistem ajaran islam harus ditempuh melalui cara-cara pnedidikan dan pengajaran. Bnanyak nilai-nilai pendidikan yang mesti diberikan keapada masyarakat islam, agar ia mampu menjalani hidupnya sesuai dengan ajaran islam, serta mampu pula beribadah dengan sempurna menurut ketentuan Allah SWT.
            Oleh karena itu, sesungguhnya salah satu prinsip dari pelayanan dan penyuluhan atau konseling islam ialah memberikan pelajaran kepada orang lain secara terus menerus mengenai tata cara hidup yang baik, yang dapat membantunya dalam meraih kehidupan yang sukses sesuai dengan ketentuan etika atau norma yang dianutnya (ajaran islam). Ketentraman dan kebahagiaan yang didapatkanya merupakan kenikmatan rohani/spiritual yang tinggi karena kedekatan hubunganya dengan tuhan dan dengan sesama manusia.
            Dalam aktivitas dakwah islam pada dasarnya kegiatan membimbing dan menyuluh merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kegiatan belajar dan mengajar, agar anak bimbing (terbimbing) mampu meningkatkan kemampuan dirinya dan dapat pula menetapkan pilihan hidupnya.

B.     Hubungan Pedagogi dengan BK
Landasan pedagogis pelayanan bimbingan dan konseling setidaknya berkaitan dengan:
1). Pendidikan sebagai upaya pengembangan manusia dan bimbingan merupakan salah satu bentuk kegiatan pendidikan.
Pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia. Seorang manusia hanya akan dapat menjadi manusia sesuai dengan tuntutan budaya hanya melalui pendidikan. Tanpa pendidikan, bagi manusia yang telah lahir itu tidak akan mampu memperkembangkan dimensi keindividualannya, kesosialisasinya, kesosilaanya dan keberagamaanya.[3]
Undang-Undang No. 2 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menetapkan pengertian pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
2). Pendidikan sebagai inti proes bimbingan dan konseling.
Bimbingan dan konseling mengembangkan proses belajar yang dijalani oleh klien-kliennya. Kesadaran ini telah tampil sejak pengembangan gerakan Bimbingan dan Konseling secara meluas di Amerika Serikat . pada tahun 1953, Gistod telah menegaskan Bahwa Bimbingan dan Konseling adalah proses yang berorientasi pada belajar……, belajar untuk memahami lebih jauh tentang diri sendiri, belajar untuk mengembangkan dan merupakan secara efektif berbagai pemahaman.. (dalam Belkin, 1975). Lebih jauh, Nugent (1981) mengemukakan bahwa dalam konseling klien mempelajari ketrampilan dalam pengambilan keputusan. Pemecahan masalah, tingkah laku, tindakan, serta sikap-sikap baru . Dengan belajar itulah klien memperoleh berbagai hal yang baru bagi dirinya; dengan memperoleh hal-hal baru itulah klien berkembang.
3). Pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan bimbingan dan konseling.
            Tujuan Bimbingan dan Konseling disamping memperkuat tujuan-tujuan pendidikan, juga menunjang proses pendidikan pada umumnya. Hal itu dapat dimengerti karena program-program bimbingan dan konseling meliputi aspek-aspek tugas perkembangan individu, khususnya yang menyangkut kawasan kematangan pendidikan karier, Kematangan personal dan emosional, serta kematangan sosial, semuanya untuk peserta didik pada jenjang pendidikan dasar (SD dan SLTP) dan pendidikan menengah (Borders dan Drury, 1992). Hasil-hasil bimbingan dan konseling pada kawasan itu menunjang keberhasilan pendidikan pada umumnya.

C.     Tujuan Pedagogi
Dalam pengertian diatas jelas disebutkan bahwa bimbingan sebagai salah bentuk upaya pendidikan. Oleh sebab itu, apapun pembicaraan tentang bimbingan termasuk konseling tidak boleh lepas dari hakikat pendidikan. Dengan demikian, dalam pelayanan bimbingan dan konseling harus terkandung aspek-aspek pendidikan, seperti:
1). Usaha sadar dari pembimbing atau konselor kepada pendidik ( klien ).
2). Menyiapkan peserta didik ( klien ).
3). Untuk perananya dimasa yang akan datang yang diwujudkan melalui tujuan-tujuan bimbingan dan konseling.
            Upaya bimbingan dan konseling atau pencapaian tujuan-tujuan bimbingan dan konsleing  tidak boleh menyimpang dari tujuan pendidikan baik secara umum maupun khusus. Tujuan umum adalah yang dirumuskan dalam undang-undang, sedangkan tujuan yang khusus adalah yang dirumuskan dalam kurikulum yang diimplementasikan dalam proses pendidikan dan pembelajaran.
            Tujuan bimbingan dan konseling tidak boleh menyimpang atau bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional. Maka tujuan bimbingan dan konseling pada hakikatnya adalah agar klien lebih mantap dan mendalam keberagamanya, berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai sesuai dengan pengembangan kebutuhan dan pengembangan dirinya, sehat jasmani dan rohaninya, mandiri, serta memiliki tanggung jawab sosial kemasyaraktan dan kebangsaan.[4]
           







BAB III
KESIMPULAN

Landasan pedagogi mengemukakan bahwa antara pendidkan dan bimbingan memang dapat dibedakan, tetapi tidak dapat dipisahkan. Secara mendasar bimbingan dan konseling merupakan salah satu bentuk pendidikan. Demikianlah, proses bimbingan dan konseling adalah proses pendidikan yang menekankan pada kegiatan belajar dan sifat normatif. Tujuan-tujuan pendidikan dan menunjang program-program pendidikan secara menyeluruh.
















DAFTAR PUSTAKA

Prayitno dan Amti, Erman. 2009. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling, Jakarta:PT. Asdi Mahasatya.
Tohirin.2007. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah, Jakarta:PT. Grafindo Persada.
M. Lutfi. 2008. Dasar-dasar Bimbingan dan Penyuluhan (Konseling) Islam, Jakarta:UIN Syarif Hidayatullah.
W.S, Winkel. 1991. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan, Jakarta : PT Grasindo.
id.wikipedia.org/wiki/Pedagogi
Nurihsan, Achmad Jntika. 2005. Strategi Layanan Bimbingan dan Konseling, Bandung:PT. Refika Aditama.
www.google.com// id.shvoong.com


[1] Tohirin.2007. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah, Jakarta:PT. Grafindo Persada.

[2] M. Lutfi. 2008. Dasar-dasar Bimbingan dan Penyuluhan (Konseling) Islam, Jakarta:UIN Syarif Hidayatullah.
[3] Tohirin.2007. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah, Jakarta:PT. Grafindo Persada.
[4] Tohirin.2007. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah, Jakarta:PT. Grafindo Persada.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar